Mechanical Engineering

Sabtu, 11 Juli 2015

NON DESTRUCTIVE TEST

UJI TANPA MERUSAK 
( NON DESTRUCTIVE TEST )

Non destrtructive testing (NDT) adalah aktivitas tes atau inspeksi terhadap suatu benda untuk mengetahui adanya cacat, retak, atau discontinuity lain tanpa merusak benda yang kita tes atau inspeksi. Pada dasarnya, tes ini dilakukan untuk menjamin bahwa material yang kita gunakan masih aman dan belum melewati damage tolerance. Material pesawat diusahakan semaksimal mungkin tidak mengalami kegagalan (failure) selama masa penggunaannya.NDT dilakukan paling tidak sebanyak dua kali. Pertama, selama dan diakhir proses fabrikasi, untuk menentukan suatu komponen dapat diterima setelah melalui tahap-tahap fabrikasi. NDT ini dijadikan sebagai bagian dari kendali mutu komponen. Kedua, NDT dilakukan setelah komponen digunakan dalam jangka waktu tertentu. Tujuannya adalah menemukan kegagalan parsial sebelum melampaui damage tolerance-nya.

A. Metode utama Non Destructive Testing meliputi:
1. Visual Inspection
Sering kali metode ini merupakan langkah yang pertama kali diambil dalam NDT. Metode ini bertujuan menemukan cacat atau retak permukaan dan korosi. Dalam hal ini tentu saja adalah retak yang dapat terlihat oleh mata telanjang atau dengan bantuan lensa pembesar ataupun boroskop. 
2. Liquid Penetrant Test
Metode Liquid Penetrant Test merupakan metode NDT yang paling sederhana. Metode ini digunakan untuk menemukan cacat di permukaan terbuka dari komponen solid, baik logam maupun non logam, seperti keramik dan plastik fiber. Melalui metode ini, cacat pada material akan terlihat lebih jelas. Caranya adalah dengan memberikan cairan berwarna terang pada permukaan yang diinspeksi. Cairan ini harus memiliki daya penetrasi yang baik dan viskousitas yang rendah agar dapat masuk pada cacat dipermukaan material. Selanjutnya, penetrant yang tersisa di permukaan material disingkirkan. Cacat akan nampak jelas jika perbedaan warna penetrant dengan latar belakang cukup kontras. Seusai inspeksi, penetrant yang tertinggal dibersihkan dengan penerapan developer. Kelemahan dari metode ini antara lain adalah bahwa metode ini hanya bisa diterapkan pada permukaan terbuka. Metode ini tidak dapat diterapkan pada komponen dengan permukaan kasar, berpelapis, atau berpori.
3. Magnetic Particle Inspection

Dengan menggunakan metode ini, cacat permukaan (surface) dan bawah permukaan (subsurface) suatu komponen dari bahan ferromagnetik dapat diketahui. Prinsipnya adalah dengan memagnetisasi bahan yang akan diuji. Adanya cacat yang tegak lurus arah medan magnet akan menyebabkan kebocoran medan magnet. Kebocoran medan magnet ini mengindikasikan adanya cacat pada material. Cara yang digunakan untuk memdeteksi adanya kebocoran medan magnet adalah dengan menaburkan partikel magnetik dipermukaan. Partikel-partikel tersebuat akan berkumpul pada daerah kebocoran medan magnet. Kelemahannya, metode ini hanya bisa diterapkan untuk material ferromagnetik. Selain itu, medan magnet yang dibangkitkan harus tegak lurus atau memotong daerah retak serta diperlukan demagnetisasi di akhir inspeksi.
4. Eddy Current Test
Inspeksi ini memanfaatkan prinsip elektromagnet. Prinsipnya, arus listrik dialirkan pada kumparan untuk membangkitkan medan magnet didalamnya. Jika medan magnet ini dikenakan pada benda logam yang akan diinspeksi, maka akan terbangkit arus Eddy. Arus Eddy kemudian menginduksi adanya medan magnet. Medan magnet pada benda akan berinteraksi dengan medan magnet pada kumparan dan mengubah impedansi bila ada cacat.
Keterbatasan dari metode ini yaitu hanya dapat diterapkan pada permukaan yang dapat dijangkau. Selain itu metode ini juga hanya diterapkan pada bahan logam saja.
5. Ultrasonic Inspection
Prinsip yang digunakan adalah prinsip gelombang suara. Gelombang suara yang dirambatkan pada spesimen uji dan sinyal yang ditransmisi atau dipantulkan diamati dan interpretasikan. Gelombang ultrasonic yang digunakan memiliki frekuensi 0.5 – 20 MHz. Gelombang suara akan terpengaruh jika ada void, retak, atau delaminasi pada material. Gelombang ultrasinic ini dibnagkitkan oleh tranducer dari bahan piezoelektri yang dapat menubah energi listrik menjadi energi getaran mekanik kemudian menjadi energi listrik lagi.

6. Radiographic Inspection
Metode NDT ini dapat untuk menemukan cacat pada material dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma. Prinsipnya, sinar X dipancarkan menembus material yang diperiksa. Saat menembus objek, sebagian sinar akan diserap sehingga intensitasnya berkurang. Intensitas akhir kemudaian direkam pada film yang sensitif. Jika ada cacat pada material maka intensitas yang terekam pada film tentu akan bervariasi. Hasil rekaman pada film ini lah yang akan memeprlihatkan bagian material yang mengalami cacat.

B. Peralatan di Laboratorium Uji Tak Rusak ( Non-destructive Testing )
1. Ultrasonik Equipment

a.      Ultrasonic Flaw Detector      


 Gambar 1.1   Ultrasonic Flaw Detector            Gambar 1.2  Panametric Epoch 4Plus
              Krautkramer USD 10

Sebagaimana namanya, ultrasonic flaw detector merupakan alat ultrasonik yang digunakan untuk mendeteksi cacat pada material, khususnya pada bagian las-lasan. Kelompok keandalan dilengkapi dua unit flaw detector, yaitu merk Krautkramer USD 10 dan merek Panamteric Epoch 4Plus.
b. Ultrasonic Thickness Gauge
Alat ini digunakan untuk mengukur ketebalan material menggunakan gelombang ultrasonik. Pengukuran ketebalan sering dilakukan pada sistem pemipaan di dalam suatu plant, khususnya bagian-bagian pemipaan yang mengalami abrasi atau erosion-corrosion (erosion accelerated corrosion).Laju penipisan dengan mekanisme erosion-corrosion sangat dipengaruhi oleh jenis aliran, kecepatan alir, temperatur dan jenis material. Di kelompok keandalan dilengkapi dua unit thickness gauge yaitu Panametric 37DL dan StressTel. Untuk merek Panametric memiliki keunggulan yaitu dapat mengukur secara multi layer (coating through), sehingga pipa-pipa dengan lapisan cat dapat secara langsung diukur tanpa harus mengelupas lapisan catnya.



          Gambar 1.3 Thickness gauge Panametrics 37DL         
          


  Gambar 1.4 Thickness gauge 
                                                                                                          
c. Ultrasonic Pulser Receiver

        Selain dilengkapi ultrasonic flaw detector dan thickness gauge, kelompok keandalan dilengkapi juga dengan ultrasonic pulser-reciever, yang digunakan untuk mengembangkan metode pengujian material dengan gelombang ultrasonik. Dengan dilengkapi digital osciloskop, memungkinkan untuk dilakukan signal analysis yang dapat digunakan untuk menentukan parameter pengujian.



Gambar 1.5 Ultrasonic Pulser-Reciever


2. Magnetic Particle Testing
Uji magnetic particle ini memanfaatkan sifat-sifat medan magnet pada logam ferromagnetik, dimana jika terdapat cacat di permukaan atau sub-surface akan mengakibatkan perubahan garis-garis medan magnet. Dengan menaburkan serbuk magnet (kering dan basah), cacat dapat diamati dengan mudah.Kelompok keandalan dilengkapi dengan satu unit yoke seperti yang Tampak pada Gambar.


Gambar 1.6 uji magnetic particle
3. Gamma Camera
Kamera Gamma merupakan alat uji tak rusak yang memancarkan radiasi. Alat ini banyak digunakan untuk melakukan pengujian las-lasan. Jenis sumber radiasi yang digunakan akan mempengaruhi daya tembus ke arah ketebalan material.




Gambar 1.7 gamma camera
\
Metode NDT ini dapat untuk menemukan cacat pada material dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma. Prinsipnya, sinar X dipancarkan menembus material yang diperiksa. Saat menembus objek, sebagian sinar akan diserap sehingga intensitasnya berkurang. Intensitas akhir kemudaian direkam pada film yang sensitif. Jika ada cacat pada material maka intensitas yang terekam pada film tentu akan bervariasi. Hasil rekaman pada film ini lah yang akan memeprlihatkan bagian material yang mengalami cacat
4. Kamera Inframerah
Kamera inframerah adalah suatu kamera yang digunakan untuk memantau distribusi temperatur di permukaan objek yang diamati. Kamera ini dapat digunakan untuk mengamati semua jenis material, karena pada dasarnya semua benda yang memiliki temperatur di atas suhu mutlak 0° (K), akan memancarkan sinar/gelombang inframerah. Alat ini sering digunakan untuk melakukan monitoring komponen-komponen elektrik baik tegangan rendah, tinggi dan super tinggi, komponen mekanik, struktur sipil dan sebagainya. Misalnya, untuk mengetahui kondisi sambungan pada komponen elektrik, memantau keausan bearing pada motor, monitoring kondisi insulator, monitoring ketebalan pipa dan lain-lain.




Gambar 1.8 kamera infra merah


5. Helium Leak Detector

Alat ini merupakan alat yang digunakan untuk mendeteksi lokasi kebocoran pada suatu sistem. Sebagaimana namanya, alat ini bekerja dengan cara menginjeksikan gas helium ke dalam suatu sistem, selanjutnya, dengan detektor helium dideteksi keberadaan helium di luar system.





Gambar 1.9 Helium Leak Detector
6. Alloy Analyzer
Alat alloy analyzer ini merupakan alat yang digunakan untuk melakukan inspeksi material, atau lebih terkenal disebut dengan Positive Material Identification (PMI).Alat bernama X-MET 3000 yang bekerja dengan prinsip XRF ini mampu mendeteksi logam mulai dari unsur Mg ke atas. Unsur dengan nomor atom di bawah Mg tidak dapat dideteksi.


Gambar 1.10 X-MET 3000

7. Corrosometer
Masalah korosi merupakan masalah yang hampir dipastikan dihadapi oleh semua pengelola instalasi. Terkait dengan korosi ini dilakukan berbagai usaha untuk memahami karakteristik korosi yang terjadi, mitigasi serta monitoring. Dengan alat ini dapat dilakukan karakterisasi kejadian korosi pada suatu material.



Gambar.1.11 Corrosometer


Tidak ada komentar:

Posting Komentar